Kamis, 27 Oktober 2011

Aksi Occupy Wall Street (OWS/Pendudukan Wall Street) Merambah Brasil

REPUBLIKA.CO.ID
Aksi Occupy Wall Street (OWS/Pendudukan Wall Street) di New York kini merambah Rio de Janeiro yang merupakan kota terbesar kedua Brasil. Sekitar 150 aktivis membentangkan tulisan-tulisan dan slogan-slogan anti-kapitalisme pada Rabu (26/10) waktu setempat.


Aksi OWS Merambah Brasil
Salah satu aksi dalam demonstasi 'Occupy Rio'

"Tahun 2012 Adalah Akhir dari Dunia Kapitalis," bunyi salah satu tulisan. "Mengapa dunia untuk semua orang, tapi begitu banyak orang yang lapar?" bunyi satu tulisan lainnya bernada tanya.

Aksi yang diberi nama 'Menduduki Rio' itu terinspirasi oleh demonstrasi serupa di Spanyol dan Amerika Serikat.
Para aktivis terinspirasi oleh protes "kemarahan" yang merebak di Madrid. Demonstran "Pendudukan Wall Street" di New York juga ikut menulari aksi 'Menduduki Rio'.
Para demonstran selama akhir pekan ini berkemah di tenda-tenda di Plaza Cinelandia. "Tindakan ini tidak cukup untuk memerangi gejala tanpa mengatasi penyebabnya," kata seorang pengunjuk rasa perempuan yang lulusan studi lingkungan. "Penyebab sebagian besar masalah dunia kita adalah sistem kapitalis."
Para pengunjuk rasa Brazil kebanyakan berasal dari sekolah menengah dan mahasiswa. Ada juga para anggota partai-partai kiri. Banyak di antaranya menjalin kontak langsung secara online dengan aksi-aksi protes serupa di seluruh dunia.
Para pengunjuk rasa Brazil juga marah atas pengambilalihan paksa untuk membangun infrastruktur bagi Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016 serta pembangunan bendungan raksasa Belo Monte di wilayah negara bagian Amazon, Para.
Kelompok sejenis juga berkemah di pusat kota Sao Paulo, ibu kota industri dan keuangan Brazil, sejak 15 Oktober lalu.
bagi kita yang telah mengenal dinar dan dirham sudah memiliki solusi yang tepat yaitu menggunakan dinar dan dirham sehingga terbebas dari krisis finansial.

Rabu, 26 Oktober 2011

Biduk Besar Berani Melawan Ombak, Tetapi Kayu Kecil Yang Sampai Ke Pantai…

Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 26 October 2011 06:06
Di puncak krisis 2008, tepatnya tanggal 17 October 2008 di blog saya yang lama saya menulis tentang Tahap-Tahap Krisis Dan Pengaruhnya Pada Harga Emas. Saat tulisan tersebut saya buat harga emas berada pada angka US$ 800-an/Ozt, tetapi saya menggambar grafik seperti pada gambar dibawah yang menggambarkan harga emas akan menjualang tinggi pasca krisis saat itu. Kini tiga tahun kemudian, harga emas berada pada kisaran US$ 1,700-an atau lebih dari dua kalinya. Kebetulan kah ? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini…

Pasar dalam bentuk apapun terdiri dari sekumpulan manusia yang berbeda kebutuhan, kemudian dari perbedaan inilah manusia saling memenuhi kebutuhannya. Yang satu ingin menjual dan yang lain ingin membeli. Dari keinginan untuk menjual (supply) yang bertemu keinginan untuk membeli (demand) inilah harga terbentuk.

Tahap-Tahap Krisis
Tahap-Tahap Krisis

Karena perilaku manusia ini bisa dipelajari, semakin banyak jumlah orang yang terlibat semakinpredictable – inilah yang disebut law of large number atau hukum bilangan besar.  Dari law of large number perilaku para pelaku pasar emas misalnya dapat kita visualisasikan menjadi grafik tersebut diatas.  Harga emas sekarang menjadi sangat tinggi dibandingkan harga tahun 2008 , ya karena perilaku manusia pencetak uang (yang merespresentasikan demand), mencetak uang kertas yang berlebihan – yang semuanya predictable dalam krisis saat itu.

Tetapi masalahnya adalah yang terjadi di pasar bukan hanya karena pengaruh satu factor saja; begitu banyak factor lain yang tidak semuanya kita ketahui. Jadi meskipun sesuatu itu predictablesekalipun- hasil pastinya memang tidak ada satu manusia-pun yang bisa membuat prediksi yang akurat. Waktu kemudian yang akan memberitahu kita bahwa prediksi kita akhirnya betul, sedikit betul atau salah sama sekali. Wa Allahu A’lam ; hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Untuk krisis yang sekarang saja misalnya; prediksi kedepannya menjadi lebih rumit dari krisis 2008 yang epicentrum-nya hanya satu yaitu ekonomi Amerika yang saat itu gonjang-ganjing yang pemicu awalnya adalah sub-prime mortgage.  Saat ini ada setidaknya dua pemicu besar yaitu krisis hutang di Amerika (Trigger 1) yang sebelum mereda sudah disusul oleh pemicu besar yang lain yaitu ancaman default-nya beberapa negara di Uni Eropa (Trigger 2).

Dampak krisis yang susul menyusul ini pada emas ( dan juga komoditi lainnya) dapat divisualisasikan seperti pada garfik dibawah. Ketika Trigger  1 belum tuntas memasuki periode penurunan harga, Trigger 2 menyusulnya sehingga menggeser waktu penurunannya.

Crisis Impact on Prices
Crisis Impact on Prices

Maka melihat krisis demi krisis tersebut seperti kita melihat ombak yang susul menyusul, sekuat apapun biduk besar bila melawan arus ombak tersebut dia akan tergulung – inilah yang terjadi di ekonomi Amerika dan kini Eropa. Sebaliknya, sebilah kayu kecil dapat menyelamatkan orang yang berpegangan kayu tersebut dan mengikuti kemana arah ombak membawanya.  Karena ombak akan berakhir di pantai, maka sebilah kayu tersebut juga akan mengantarkan orang yang memegangnya sampai ke pantai.

Biduk besar yang melawan arus tersebut adalah ekonomi kapitalisme ribawa yang memang sudah dijanjikan kehancurannya oleh Sang Maha Pencipta (QS 2 : 275 – 276). Adapun sebilah kayu kecil untuk berpegangan mengikuti arus ombak ini adalah inisitif-inisiatif kecil untuk kembali pada syariatNya dalam hal uang yang nilai daya belinya stabil sepanjang jaman, dalam hal pasar yang adil dan dapat diakses oleh semua orang, dalam hal sumber-sumber daya yang dikelola untuk dimakmurkan bukan untuk sekedar dikuasai dlsb.

Bayangkan bila siklus seperti pada grafik pertama diatas terbukti benar kembali dan berulang dalam tiga tahun ini  dan dengan komplikasi grafik kedua, maka daya beli uang Anda akan kembali tinggal separuh dari sekarang atau bahkan kurang. Tiga tahun ini adalah waktu yang pendek, yaitu ketika anak  Anda yang sekarang kelas 1 SMP, maka ketika dia masuk SMA biayanya akan dua kali dari biaya masuk SMA sekarang. Bila sekarang kelas 1 SMA, biaya masuk perguruan tinggi akan dua kali dari biaya sekarang dst. Maka inilah perlunya Anda memilih, biduk besar yang melawan ombak – atau kayu kecil (untuk saat ini) yang akan mengantar Anda ke pantai…buktinya sudah begitu nyata !.

Senin, 24 Oktober 2011

Awalnya Adalah Inflasi….

Oleh Muhaimin Iqbal   
Senin, 24 October 2011 08:14
Gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat beberapa pekan terakhir sepertinya menyampaikan pesan yang serius, bahwa ada yang salah dengan system ekonomi kapitalis yang sekarang mendominasi dunia. Bahkan karena common problemkapitalisme ini pula gerakan serupa mudah menjalar ke negeri lain seperti Jerman misalnya, maka lahirlah di negeri itu gerakan Occupy Berlin. Tetapi sebenarnya bagian mananya dari kapitalisme yang diprotes oleh rakyat dunia ini ?.

Dari sekian banyak cacat bawaan kapitalisme, satu yang umum dan menyengsarakan rakyat adalah inflasi. Ketika pemerintah negara-negara di dunia mencetak uangnya secara berlebihan, maka mayoritas penduduknya akan menderita karena inflasi ini. Mereka telah bekerja sekuat tenaga tetapi penghasilannya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya, inilah yang membuat rakyat di Amerika marah yang kemudian menular ke negara-negara besar lainnya.

Di tahun ini pula, kemarahan serupa terjadi di beberapa negara yang sampai menumbangkan pemerintahannya. Awalnya di Algeria ketika Januari lalu rakyatnya menuntut agar pemerintahnya memberikan (menurunkan harga) gula, demo ini sampai membawa 8 orang meninggal. Demo serupa ditiru di negeri tetangganya Tunisia yang berakhir dengan tumbangnya pemerintahan Ben Ali. Menular lagi ke Mesir hingga jatuhnya Hosni Mubarak, terus menular ke Libya  hingga jatuhnya Ghadafi – meskipun di Libya sebenarnya inflasi bukan menjadi isu, ke Syria dengan begitu banyak korban dan belum berakhir hingga kini. Di Indonesia kita juga pernah mengalami hal yang serupa, inflasi tinggi yang membawa kejatuhan Presiden Pertama dan Kedua negeri ini.

Namun sebenarnya bagi rakyat ada hal yang lebih penting ketimbang jatuhnya suatu rezim, yaitu teratasinya masalah yang mendasar yang menjadi pemicu ketidak puasan rakyat terhadap pemerintahnya – salah satunya ya inflasi itu tadi.

Di Indonesia misalnya kalau ditanya rakyat kebanyakan apakah pasca 1998 kita hidup lebih baik ?, jawabannya kemungkinan besarnya adalah tidak. Mengapa demikian ?. Grafik dibawah yang mencerminkan nilai tukar atau daya beli Rupiah kita – secara tidak langsung menjelaskan hal ini. Pasca 1998 diperlukan rata-rata sekitar 4 kali lebih banyak Rupiah untuk membeli barang kebutuhan  standar internasional yang dinilai dengan Dollar. Apakah penghasilan rakyat naik rata-rata 4 kali atau lebih pasca 1998 tersebut ?, saya rasa tidak.

Inflation to US$ - Compared
Inflation to US$ - Compared
Sebagai pembanding, mengapa demo-demo yang sampai mengguncang pemerintahannya lebih kecil kemungkinannya terjadi di negeri seperti Jepang, China dan Australia ?, ya karena mereka relatif berhasil mengendalikan inflasi di negaranya. Bila rakyat makmur, mereka tidak akan peduli dengan siapa yang  duduk di pemerintahannya. Demikian pula sebaliknya, bila rakyat sengsara – maka siapapun pemerintahannya akan dinilai gagal oleh rakyatnya.

Bahwa rata-rata kita tidak menjadi lebih makmur pasca 1998, rakyat Tunisia tidak lebih makmur pasca rezim Ben Ali, rakyat Mesir tidak lebih makmur pasca jatuhnya Hosni Mubarak, dlsb. – adalah karena rakyat itu sendiri tidak berhasil memformulasikan target tuntutannya dengan baik.

Kesalahan itu adanya pada system yang memungkinkan rakyat begitu mudah kehilangan daya beli melalui inflasi, maka siapapun pemimpinnya bila dia tidak merubah system itu – kesengsaraan akan terus berulang.

Maka sebenarnya dunia tidak memerlukan transisi kepemimpinan yang memilukan seperti di Indonesia 1965, 1998;  dan di tahun ini ada di Tunisia, Mesir, Libya dan entah mana lagi ; yang dibutuhkan adalah transsisi damai yang bisa merubah dari system ekonomi yang menyengsarakan ke system ekonomi yang memakmurkan. Transisinya bukan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain, tetapi seharusnya dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 21 Oktober 2011

Harga Emas : Noise Dari Eropa…

Oleh Muhaimin Iqbal   
Jum'at, 21 October 2011 06:44
Kemarin sampai pagi ini harga emas kembali menyentuh harga terendahnya di pasar internasional, semalam bahkan sempat diperdagangkan pada kisaran US$ 1,612/Ozt. Meskipun belum mencapai angka terendah yang mungkin bisa tercapai dalam perkiraan saya dua pekan lalu di kisaran US$ 1,300-an/Ozt, angka sekarang sudah sangat rendah karena telah turun sekitar 15 % dari angka tertingginya satu setengah bulan lalu pada US$ 1,895/Ozt (05/09/11).   Posisi terendah saat ini kurang lebihnya adalah setengah perjalanan menurun yang mungkin bisa ditempuh harga emas dunia, apabila perjalanan menurunnya ini mengikuti pola krisis 2008.

Pertanyaaannya adalah, apa yang menyebabkan penurunan yang drastis ini ?  Bukankah Eropa sedang mengalami krisis sehingga orang membutuhkan safe haven ?

Betul Eropa sedang berada di puncak krisisnya, bahkan bila pertemuan akhir pekan ini di antara pemimpin-pemimpin mereka tidak mencapai solusi penyelamatan yang berarti – maka krisis akan tereskalasi dalam skala yang lebih besar dan lebih luas dampaknya. Dan betul bahwa pasar membutuhkan safe haven ketika krisis semacam ini terjadi, tetapi ketika krisis kali ini di Eropa dan kepercayaan dunia terhadap Euro runtuh – maka untuk sementara safe haven pertama yang ditubruk dahulu oleh pelaku pasar adalah US Dollar.

Mengapa bukan emas ? karena realitanya para pelaku usaha masih membutuhkan Dollar sebagai instrument berbagai transaksi perdagangan dan usahanya. Ketika Euro ditinggalkan dan pasar beralih ke Dollar – maka  demand terhadap US Dollar sementara meningkat dan price-nya tentu juga meningkat. Nilai tukar Dollar yang meningkat relative terhadap berbagai mata uang dunia – dan terutamanya tentu Euro – inilah yang membuat harga emas dalam Dollar menurun.

Meskipun harga emas dunia lagi rendah dan bisa turun ke angka yang lebih rendah lagi, saya masih mengkategorikannya sebagai noise dan bukan signal. Mengapa demikian ?

Karena sesungguhnya tidak ada perubahan yang fundamental dari unsur yang paling esensial yang membentuk harga emas itu sendiri. Pelajaran mendasar tentang mekanisme pembentukan harga adalah supply and demand.  Mekanisme supply and demand  ini juga berlaku bagi emas , Dollar maupun mata uang lainnya.

Untuk emas, sisi supply-nya jelas terbatas karena produksinya di seluruh dunia hanya bisa menambah jumlah emas di permukaan bumi antara 1.5 -2 % per tahun. Sedangkan sisi demand-nya tumbuh jauh lebih cepat karena dari hampir 7 milyar penduduk dunia (tepatnya6,969,500,000 per kemarin 20/10/11) , diperkirakan lebih dari 36 % di antaranya berada di China dan India  yang notabene adalah penggemar emas dalam budayanya dan daya beli mereka terus meningkat.  China dan India selain merupakan dua negara dengan penduduk terbesar di dunia, pertumbuhan ekonominya juga terbesar yaitu untuk tahun 2011 ini mencapai 9.1% (China) dan 7.7% (India).  Bandingkan ini dengan pertumbuhan ekonomi Amerika tahun ini yang hanya 1.6%, Jepang yang minus 1 % dan Indonesia 6.5%.

Disamping kebutuhan yang terkait dengan budaya dua bangsa tersebut diatas, peningkatan sisidemand emas juga di dorong oleh perlaku bank-bank sentral dunia yang kini adalah juga net buyer untuk emas, demikian pula dunia usaha mulai terus melirik emas ini dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk US Dollar yang sementara ini digunakan sebagai pembanding harga emas dunia, pertumbuhan demand jangka panjangnya tidak bisa bergerak terlalu jauh dari pertumbuhan ekonomi negara-negara yang membutuhkan Dollar-nya. Memang China yang ekonominya tumbuh sangat pesat tersebut juga membutuhkan Dollar, tetapi tidak sebesar pertumbuhan ekonominya sendiri karena China sedang mengerem ketergantungannya pada Dollar dan malah berusaha menjadikan uangnya sendiri sebagai reserve currency bersaing dengan Dollar.

Sisi supply-nya Dollar bisa dicetak dari awang-awang dengan berbagai nama yang indah sepertiquantitative easing yang konon kini telah mencapai tahap ke 3 atau satu tahap lagi menjelang kematiannya pada quantitative easing tahap ke 4.

Jadi kalau kita lihat jangka panjang emas yang pertumbuhan demand-nya lebih besar dari supply-nya, dibeli dengan Dollar yang supply-nya lebih besar dari demand-nya, maka yang dibeli (emas) semakin mahal sedangkan yang untuk membeli (Dollar) semakin murah – walhasil harga emas akan cenderung lebih besar dorongan ke atas-nya dalam jangka panjang. Ini juga di confirm olehtrend jangka panjang yang saya tulis pekan lalu (14/10/11).

Tetapi sekali lagi perlu diingat, bahwa dalam jangka pendek harga emas bisa jadi turun lebih rendah lagi. Oleh karenanya selalu saya ingatkan di situs ini untuk tidak berspekulasi dengan harga emas.  Wa Allahu A’lam.

Rabu, 19 Oktober 2011

10 Investasi Pilihan Bagi Orang-Orang Yang ‘Takut’…

Oleh Muhaimin Iqbal   
Rabu, 19 October 2011 08:13
Bagi kita yang saat ini berada di usia 40-an , 40 tahun lagi atau sekitar tahun 2050 kemungkinan terbesarnya kita sudah tidak ada di dunia ini. Tetapi penduduk bumi saat itu diperkirakan mencapai 9 milyar jiwa dan sebagiannya adalah anak cucu kita. Di antara sekian banyak problem yang mungkin dihadapi oleh mereka saat itu, problem terbesar yang sudah bisa diprediksi dari sekarang adalah kecukupan pangan untuk mereka. Tidak-kah kita terpikir untuk mulai berbuat saat ini untuk meringankan beban anak cucu kita nantinya ?

Badan pangan dunia Food and Agricultural Organization – FAO telah memprediksi bahwa produksi pangan dunia harus meningkat 70% dari sekarang bila ingin penduduk bumi saat itu memperoleh pangannya secara cukup. Padahal lahan pertanian maksimalnya hanya bisa bertambah 10 % dari yang sekarang ada di seluruh dunia dan di sebagian negara malah menyusut bukannya bertambah, maka solusinya haruslah peningkatan produktifitas hasil dari setiap jengkal tanah pertanian yang ada.

Bila Anda termasuk yang terketuk untuk ikut menyelamatkan generasi yang akan datang ini, berikut antara lain 10 jenis investasi yang bisa Anda lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak cucu kita semua – pilihan lainnya tentu juga banyak. 

1.     Investasi di tanah-tanah pertanian (membeli) dan mengamankannya untuk tetap menjadi tanah pertanian. Sudah terlalu banyak lahan-lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi perumahan, lapangan golf, jalan raya dlsb. waktunya menghentikan semua ini dan setidaknya mempertahankan lahan yang tersisa untuk pertanian.
2.     Investasi pada pengetahuan pertanian dan sarana penunjang, dengan mempelajari seluk beluk ilmu pertanian umumnya dan sarana penunjangnya untuk kemudian mulai berbuat untuk mengamalkan ilmu pengetahuan ini.
3.     Investasi pada upaya untuk menghasilkan tanaman-tanaman organic  lengkap dengan  pupuk-pupuknya, pestitisadanya dlsb, dunia akan sangat membutuhkan healthy product yang semakin langka kedepan.
4.     Investasi untuk penanganan pasca panen segala bentuk hasil pertanian, karena apapun produk pertanian saat itu harus bisa dihemat dan didistribusikan ke berbagai belahan dunia yang paling membutuhkannya.
5.     Investasi pada sumber-sumber pangan yang bisa ditanam di tanah yang terbatas atau bahkan tanpa tanah, seperti tanaman vertical, hydroponic/areophonic, jamur dlsb.
6.     Investasi pada manajemen atau pengelolaan air hujan karena inilah sumber utama kehidupan saat itu ketika air tanah sudah nyaris habis disedot atau tercemar.
7.     Investasi untuk menghasilkan benih-benih unggul dan fertile sehingga bisa mengembalikan siklus pertanian yang sudah berlangsung ribuan tahun yang kini di sabot oleh para konglomerat benih. Harus dikembalikan agar setiap hasil panen selain hasil terbesarnya dikonsumsi – sebagiannya harus bisa menghasilkan benih untuk tanaman berikutnya.
8.     Investasi untuk pertanian tanaman-tanaman bergizi tinggi, karena ketika kwantitas menjadi kendala maka kwalitas akan sangat dibutuhkan.
9.     Investasi untuk produksi pangan hewani yang efektif baik dari jenis daging, ikan, susu, telur dlsb.
10.   Investasi pada usaha pertanian berpresisi tinggi, yaitu pertanian yang ditunjang oleh hasil riset yang intensif, laboratorium analisa kecocokan tanah yang akurat, resep pemupukan yang efektif dlsb.

Tidak ada yang mudah di antara 10 investasi tersebut diatas, dan hasilnya-pun belum tentu bisa kita nikmati di usia kita sekarang – oleh karenanya amat sangat sedikit dari para pemilik dana saat ini yang mau menerjuni salah satunya. Tetapi bayangkan apa yang akan dialami oleh generasi anak kita yang masih balita saat ini, tidakkah kita ingin berkontribusi untuk mengamankan masa depan mereka ?

Selain untuk anak cucu kita sendiri, investasi semacam ini juga dapat menjadi bentuk respon langsung kita atas peringatan Allah : Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS 4:9).

Semoga kita termasuk orang-orang yang takut tersebut…., amin !